Posted on

September dalam Diary

Sabtu, 1 September 2007

Dingin. Angin berembus dari arah barat laut, menembus sela-sela rambut sebahuku. Aku merapatkan jaket ke tubuhku dengan tangan dimasukkan ke sakunya. Enggan, aku melangkahkan kaki ke luar kelas, berjalan dengan mata tertuju ke sepatu. Ini hari pertamaku bersekolah di sini juga tinggal di kota ini. Jasadku memang di sini, tapi pikiranku melayang entah ke mana.

Aku memikirkan dia. Dia yang selalu menyita waktuku dan pikiranku, bahkan dalam mimpiku. Dia yang nyaris sempurna, setidaknya bagiku. Berparas tampan dengan tulang pipi tinggi, kulit kecoklatan, hidung mancung, dan tubuh menjulang tinggi, bahkan aku harus mendongakkan kepala jika ingin melihat wajahnya. Dan matanya. Matanya indah…sekali. Berwarna coklat muda khas orang Asia. Badan bening matanya putih bersih tanpa ada syaraf yang terlihat. Ya, aku paling suka bagian yang ini.

Sebenarnya aku hanya bertemunya satu kali, itupun dari jarak yang cukup jauh. Bahkan aku tidak sempat berbicara dengannya apalagi tahu namanya. Sejak itu aku berusaha mencarinya sampai aku menyerah karena tak kunjung menemukannya. Sampai saat ini aku masih berharap untuk dapat melihatnya kembali. Sungguh konyol.

Kakiku terus melangkah dan mataku tetap tertuju ke bawah. Angin di awal September memang dingin tanpa ampun. Ketika aku memejamkan mata, berharap angin berembus lebih pelan, kakiku tersandung sesuatu. Tubuhku hilang keseimbangan hingga terhuyung ke depan saat gerakanku terhenti. Sesaat aku heran, apakah waktu telah berhenti? Karena aku sangat menginginkannya agar aku dapat benar-benar merasa tenang untuk memikirkannya. Mustahil. Kubuka mataku perlahan dan melihat seseorang telah menahanku dengan tangannya yang kuat. Dia mendekapku erat agar tidak jatuh. Hangat, tubuhnya hangat. Aku mengangkat wajahku hingga mataku bertemu dengan matanya yang indah. Mata itu. Mata yang aku bayangkan setiap hari. Aku tak percaya bisa bertemu dengannya dalam situasi seperti ini. Aku berharap suatu saat nanti, saat aku bertemu dengannya, aku bisa bersikap sangat manis, bukan seperti ini.

Aku mengerjapkan mataku, masih tak percaya. Sesaat aku berpikir untuk terus sepert ini, meskipun aku tahu ini tidak benar. Tapi tubuhnya benar-benar hangat, sangat kontras dengan udara September yang dingin. Tak lama dia membuka mulutnya dan berkata,”Kau melamun ya?”

 

Minggu, 2 September 2007

Beruntung sekali di hari Minggu tidak ada sekolah, jadi seharian aku memikirkan kejadian kemarin sore. ’Kau melamun ya?’ Tiga kata itu terus terngiang di telingaku. Tiga kata itu menjadi awal perkenalan kami. Aku sangat senang bisa bertemu dengannya. Bahkan bila dilihat dari dekat, matanya lebih indah dari yang selalu kubayangkan.

Setelah aku tersadar, aku bangun dari dekapannya. Tersipu, aku menunduk. Aku sama sekali tidak tahu harus berkata apa atau berbuat apa. Sementara itu, dia terus memerhatikanku dengan wajah keheranan. Akhirnya aku memberanikan diri mengeluarkan suaraku.

”Maaf,” ucapku singakat. Ternyata nyaliku besar juga!

”Sebenarnya tidak apa-apa. Aku hanya khawatir kau sakit karena badanmu sangat dingin tadi dan matamu kosong,” jawabnya. Ternyata suaranya juga indah!

Aku diam. Kemudian berpikir untuk kata-kata selanjutnya. Ha! Lebih baik aku berterima kasih saja.

”Terima kasih,” kataku, memberanikan diri menatap langsung ke matanya.

”Tak masalah. Omong-omong kau baru pulang sekolah ya?” Diam sejenak kemudian melanjutkan ucapannya,”Sepertinya kita bersekolah di tempat yang sama. Lihat, baju seragam kita sama!”

Aku baru memerhatikan pakaiannya dan benar saja, seragam kami sama!

”Ya. Sejujurnya aku baru pindah ke sini dan murid baru di sekolahmu. Aku murid kelas 1,” timpalku.

”Oh. Namaku Hilmy dan aku murid kelas 2,” ucapnya. Dia mengulurkan tangannya.

Aku membalas uluran tangannya yang hangat dan berkata,”Namaku Arin.” Kemudian aku melihat benda yang tergantung di lehernya, kamera.

”Kau suka memotret?” tanyaku.

”Ya, sangat. Aku selalu membawa benda ini ke manapun. Memotret dapat membantuku melihat dunia. Kamera adalah mata keduaku,” jawabnya jelas, tersenyum.

Kemudian kami berpisah karena hari semakin petang dan angin kembali berembus kencang. Saat berpisah, dia tersenyum dan melambaikan tangannya.

 

Senin, 3 September 2007

Cerah. Mentari masuk melalui jendela kamarku. Aku sudah siap berangkat sekolah ketika aku harus kembali ke dalam kamar, menyambar jaket kesayanganku, dan bergegas pergi ke sekolah. Siapa tahu saja hari ini berubah menjadi dingin kembali?

Hariku di sekolah sangat menyenangkan. Aku mulai memiliki banyak teman yang sangat perhatian, malah ada yang terlalu perhatian. Mereka semua sangat lucu dan menghibur. Sampai tidak terasa waktu pulang pun tiba. Ternyata hari memang berubah menjadi berangin dan mendung.

Aku bergegas pulang ke rumah agar tidak kehujanan di jalan. Namun baru setengah perjalanan, tiba-tiba hujan membasahi bumi. Beruntung aku langsung bisa menemukan tempat berteduh. Aku menyilangkan tanganku di dada sambil terus memandangi hujan. Aku mulai bersenandung menyanyikan lagu kesukaanku dengan suara kecil. Cukup lama aku menunggu, namun akhirnya hujan reda dan aku pulang.

 

Selasa, 4 September 2007

Sepertinya aku mulai merindukannya. Entah mengapa sejak ”pertemuan romantis” kami beberapa hari lalu, begitu aku menyebutnya, aku mulai menunggu waktu saat aku bertemu dengannya lagi. Tapi saat di sekolah aku mencarinya, aku tidak menemukan dia di manapun. Akhirnya dengan malas, aku menuju perpustakaan untuk mengerjakan tugasku yang belum selesai.

Begitu aku masuk, aku menemukan apa yang kucari. Dia sedang duduk, membaca buku dengan serius. Bahkan saat sedang serius pun dia sangat tampan!

Aku bergegas menghampirinya  dan duduk di sampingnya. Dia menyadari kedatanganku, kemudian tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya dan berkata,”Kau sedang membaca buku apa? Serius sekali”.

”Mmm.. aku sedang membaca buku biologi. Aku sangat suka biologi. Apakah kau juga menyukainya?”

”Aku juga suka biologi! Biologi itu menyenangkan,” jawabku.

”Ternyata kita punya kesamaan ya?” ucapnya antusias.

”Ya, aku suka kita punya kesamaan,” timpalku tak kalah antusias.

Kemudian aku mengerjakan tugasku dengan tekun. Dia melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tadi sambil sesekali menatap ke arahku.

 

Rabu, 5 September 2007

Bertemu di kantin dan dia mentraktirku!

 

Kamis, 6 September 2007

Hariku sangat sibuk. Aku tidak bertemu dengannya. Lelah.

 

Jumat, 7 September 2007

Sepulang sekolah, Hilmy mengajakku pergi. Bisa dibilang kencan, dan aku sangat senang dibuatnya. Dia begitu bersemangat memotretku dan kami berfoto bersama.

 

Sabtu, 8 September 2007

Rasanya aku mulai benar-benar menyukainya. Dan aku tahu dia juga memiliki perasaan yang sama denganku, karena dia telah menyatakannya! Senangnya!

 

Minggu, 9 September 2007-Kamis, 20 September 2007

Kami sangat sibuk dengan tugas masing-masing. Bahkan menulis diary pun harus aku satukan seperti ini. Kami benar-benar tidak sempat untuk bertemu. Kami selalu berpapasan di sekolah namun hanya tersenyum satu sama lain. Aku sangat…merindukannya. Tapi aku senang hari-hari melelahkan ini akhirnya telah berakhir.

 

Jumat, 21 September 2007

Ulang tahun. Hari ini ulang tahunku. Hilmy mengajakku pergi ke suatu tempat. Aku penasaran dengan kejutan yang akan dia berikan kepadaku. Ternyata aku dibawa ke sebuah padang rumput yang luas nan indah. Dia menyanyikan lagu ’Happy Birthday’ dengan suara yang sangat merdu. Kemudian dia memberikan kado untukku. Terkejut. Kado itu berisi foto-foto diriku yang bahkan sebagian besar aku tidak ingat kapan dia memotretku. Foto saat aku berjalan dengan kepala tertunduk (mungkin ini saat kali pertama kami bertemu), foto saat aku berteduh dari hujan, foto saat aku mengerjakan tugas di perpustakaan, dan foto saat aku kencan pertama dengannya. Aku sangat menyukainya.

 

Sabtu, 22 September 2007-Sabtu, 29 September 2007

Aku tidak menemukannya di manapun. Tidak di sekolah, tidak di rumahnya, tidak di manapun. Seolah-olah dia hilang ditelan bumi. Khawatir. Rindu. Sebal. Aku ingin segera bertemu dengannya.

 

Minggu, 30 September 2007

Akhirnya aku tahu di mana dia berada. Rumah sakit. Meski mengejutkan, aku bergegas menuju ke sana. Sesampainya di sana, aku lebih terkejut. Glaucoma. Dia menderita Glaucoma. Penyakit yang menyebabkan tekanan dalam mata bertambah tinggi, sehingga menyebabkan kebutaan bahkan kematian. Oh, Tuhan! Mengapa harus matanya yang indah?

Operasi. Dia memilih jalan ini meski tahu kemungkinannya kecil. Sebelum masuk ruang operasi, dia berkata,”Jangan bersedih dan jaga dirimu baik-baik! Jangan biarkan kesedihan menyelimutimu karena kau pantas untuk bahagia. Aku mencintaimu”. Mengangguk, aku pun menunggu. Aku sangat tidak ingin melakukan semua ucapannya tadi karena aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Sungguh ironi. Ternyata operasi gagal. Aku tidak dapat membayangkan bahwa aku harus melakukan semua ucapan terakhirnya dan menjalani hidupku tanpanya.

Dia cinta pertama dan terakhirku. Dia surga duniaku. Dan dia juga akan menjadi surga abadiku.

”2009, ketika guru bahasa Indonesia memintaku untuk membuat sebuah cerpen dari lagu..”😀

About extra-ordinary girl

Annyeong haseo! ^^ Ini adalah profil singkatku sebagai penulis blog ini.. Namaku Yuzy Fauzyah, biasa dipanggil Yuzy, Juje, atau Usi. Aku lahir di Bandung, 21 September 1993. Saat ini, aku bersekolah di SMA Negeri 24 Bandung kelas XII IPA 5. Bagi yang ingin mengenal lebih dekat, bisa add di : Facebook : yuzy_fauzyah@yahoo.com Plurk : yuzy_akajuje@yahoo.com Thanks for visiting! :)

9 responses to “September dalam Diary

  1. bet365

    hello I was luck to come cross your topic in yahoo
    your post is fine
    I obtain a lot in your subject really thank your very much
    btw the theme of you site is really wonderful
    where can find it

    • hi there! Thanks for visiting😉
      The theme has been provided by wordpress. You can change your own theme by editing your theme appearance on your dashboard. The themes’ name is Spectrum. Give it a try!
      Btw, I wonder how you can understand my post while it’s in Indonesian🙂

  2. ondax ⋅

    yah, sugan teh ngoment isi ceritanya.
    hahai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s