Posted on

Memori Tujuh Hari

“Apa kamu merasa pusing, Nak? Wajahmu terlihat pucat,” tanya ibu dengan raut wajah yang menyiratkan kecemasan.

“Aku baik-baik saja, Bu! Tadi waktu di sekolah ada tes lari, aku kan punya darah rendah jadi suka cepat pusing,” jawabku lesu.

“Kalau begitu kamu harus istirahat sekarang supaya bias cepat pulih,” ucap ibu dengan suara lembutnya yang khas.

“Ya sudah, sekarang aku tidur dulu ya, Bu! Aku memang sudah lelah,” kataku.

Aku memang beruntung! Mempunyai orang tua yang sangat sayang pada anaknya dan serba kecukupan. Mereka selalu meluangkan waktu untuk menemaniku belajar dan memenuhi semua keinginanku. Aku adalah seorang siswi kelas 1 SMA yang sangat cantik dan pintar serta berprestasi. Temanku banyak dan mereka semua sayang kepadaku. Intinya aku adalah orang paling beruntung di dunia!

Keesokan harinya aku pergi ke sekolah bersama sopir dan sebuah sedan mewah. Orang tuaku sengaja membelikannya untukku agar aku tidak terlambat pergi ke sekolah. Maklum, sekolahku jauh dari rumah. Aku jadi semakin sayang pada mereka.

Pernah sewaktu aku masih berumur 7 tahun kami sekeluarga pergi berlibur ke Inggris selama seminggu. Ini adalah hadiah dari orang tuaku karena aku berhasil menjadi juara umum di sekolah. Berlebihan memang, tapi itu kemauan mereka, bukan aku. Ketika itu…

“Kirei, liburan kali ini kita ke Inggris yuk! Kamu kan berhasil menjadi juara umum dengan nilai yang sangat tinggi, jadi kamu perlu refreshing. Mau kan?” ajak ibu.

“Mau dong! Kirei kan suka sama Negara Inggris soalnya di sana ada musim dingin, banyak saljunya. Di sana juga ada istana dengan pemandangan alam yang sangat indah,” ucapku bersemangat.

“Bagus. Ibu sudah menyiapkan semua keperluanmu dan lusa kita akan pergi ke sana. Siap?” ibu bertanya.

“Tentu saja. Aku sangat tidak sabar menunggu waktunya,” jawabku berseri-seri.

*                      *                      *

Hari keberangkatan pun tiba. Semua persiapan sudah selesai sebelumnya dan aku hanya tinggal menikmati liburan di Inggris. England, I’m coming!

Setelah melalui perjalanan yang amat panjang dan melelahkan, akhirnya kami tiba dengan selamat. Karena sudah malam, maka kami pun langsung menuju penginapan untuk bermalam di sana. Rencananya esok hari kami akan melihat istana kebanggaan rakyat Inggris, Istana Buckingham.

Pagi hari di Inggris sangat dingin mungkin karena sudah memasuki awal musim dingin. Meskipun suhu di Inggris paling baik di dunia yaitu saat musim panas tidak terlalu panas dan saat musim dingin tidak terlalu dingin, tapi tetap saja aku tidak terbiasa. Aku memakai baju hangat tebal saat keluar dari penginapan bersama keluargaku. Salju melayang turun dari langit. Senangnya bisa melihat salju secara langsung!

Inggris adalah negeri kepulauan yang sangat indah. Di London, ibu kota Inggris terdapat sebuah taman bernama Taman Hyde Park yang berada di bawah kekuasaan raja. Aku takjub melihat taman yang sangat besar dan luas itu. Kemudian kami menuju ke Istana Buckingham. Istana Buckingham adalah tempat tinggal bangsawan kerajaan Inggris, Ratu Elizabeth II. Istana ini dibangun pada masa Raja George III yang dipersembahkan untuk istrinya yaitu Ratu Charlotte. Istana ini sangat megah dan luas. Di bagian depan terdapat sebuah patung dengan emas di puncaknya. Di sepanjang jalan menuju istana terdapat bendera Inggris dengan pohon-pohon besar di antaranya.

“Bagaimana menurutmu istananya? Bagus ya?” tanya ibu padaku.

“Bagus sekali, Bu! Di sini sangat nyaman dan luas. Suatu hari nanti aku ingin tinggal di sini,” jawabku.

“Akan Ibu doakan, Nak! Tapi bukankah istana ini hanya diperuntukkan bagi bangsawan kerajaan Inggris ya? Berarti kamu tidak bisa tinggal di sini,” ibu berkata.

“Tapi aku kan putri di hati kalian. Ya kan?” tanyaku.

“Ya, tentu saja. Kau adalah putri paling cantik di dunia,” jawab ibu. Senyum manis mengembang di bibirnya.

Setelah melihat Istana Buckingham, kami pulang menuju penginapan. Udara dingin tidak mengizinkan aku melihat-lihat Inggris lebih jauh lagi. Di tengah perjalanan kami melihat Menara Jam Big Ben. Jam itu sangat besar sekali dengan tinggi 320 kaki dan diameter jamnya 7 meter. Big Ben dibuat pada tahun 1858. Kupikir, “Bagaimana mengganti baterai jam itu bila sudah habis?!”

Begitu sampai di penginapan, kami langsung duduk di dekat perapian yang menyala untuk menghangatkan diri. Panas api segera menghangatkan tubuh yang hampir beku ini. Ibu membuatkan ayah dan aku masing-masing secangkir coklat panas dengan uap yang mengepul. Lalu kami menonton acara televisi di Inggris yang semuanya memakai bahasa Inggris! Tentu saja berbahasa Inggris, tapi aku tidak mengerti maksudnya!

Esok harinya kami berkunjung ke Museum Lilin Madame Tussaud’s yang amat terkenal seantero dunia. Betapa terkejutnya aku ketika masuk dan melihat banyak tokoh dunia yang dijadikan model tokoh dunia seperti artis Hollywood, kepala negara, bintang olah raga, penyanyi terkenal, dan sebagainya.

“Bu, patung-patung ini terlihat seperti manusia sungguhan ya?” tanyaku.

“Ya, karena setiap detil patung ini sangat diperhatikan agar menjadi mirip dengan tokoh yang asli, jawab ibu.

“Ibu juga seharusnya jadi model patung lilin di sini,” gurauku.

“Mengapa?” tanya ibu.

“Karena Ibu adalah orang paling berjasa dan paling berharga bagi setiap orang. Ibu adalah inspirasi bagiku dan setiap orang dalam melakukan segala hal. Ibu adalah satu-satunya orang yang selalu mendukung apapun yang dilakukanku. Dengan lapang dada Ibu bersedia menerima semua kekurangan yang ada pada diriku. Ibu tidak pernah mengecewakanku, yang ada hanyalah aku yang melakukannya pada Ibu. Ibu selalu berada di sampingku dalam kondisi apapun, baik dalam keadaan susah ataupun senang. Ibu selalu memberikan jalan keluar untuk masalah-masalahku. Ibu bersedia mendengarkan keluhanku dan semua curahan hatiku,” jawabku panjang lebar.

Ibu terkejut mendengar jawabanku. Kemudian tersenyum dan berkata, “Ibu tidak ingin menjadi model patung lilin. Itu tidak perlu bagi Ibu. Yang Ibu inginkan hanyalah menjadi patung dalam hatimu yang bisa kau ingat di manapun kau berada”.

Aku segera memeluk ibu dan berkata lirih, “Itu sudah pasti, Bu.”

Setelah mengunjungi Museum Madame Tussaud’s, kami menuju perpustakaan di Kota London. Aku dan ayahku memang suka membaca, maka dari itu setiap ingin membeli buku kami selalu bersama. Perpustakaan di sini sangat unik, dindingnya terbuat dari kayu ek dan terdapat kafe yang sangat nyaman di dalamnya. Interiornya klasik khas Inggris dengan nuansa warna coklat di seluruh ruangan. Ada juga meja dan tempat duduknya yang bisa digunakan untuk membaca sambil minum teh. Di setiap meja terdapat bunga mawar merah segar di dalam vas antik. Setelah berlama-lama membaca, akhirnya aku memutuskan untuk membeli sebuah buku cerita bergambar yang sarat akan makna sebagai kenang-kenangan dari Inggris. Karena hari sudah petang, kami pun pulang ke penginapan dan bersiap untuk perjalanan menyusuri Inggris esok hari.

*                      *                      *

Ternyata aku terjangkit flu, sehingga hari ini kami tidak bisa pergi ke manapun. Ini pasti karena sudah dua hari berturut-turut aku berada di luar dalam cuaca yang amat dingin. Ibu dengan sabar mengurus dan menjagaku. Ibu juga membuatkanku bubur ayam yang super duper  lezat, hingga aku merasa lebih baik. Hari ke-3 di London aku tidak bisa pergi melanjutkan perjalanan. Sedihnya!

Keesokan harinya aku benar-benar sudah mendapatkan kesehatanku kembali, jadi kami bisa pergi berkunjung ke tempat berikutnya. Ini semua berkat ibu yang senantiasa menemaniku saat aku sakit. Sepanjang hari ibu berada di sampingku untuk membantu menyediakan semua kebutuhanku.

Tujuan berikutnya adalah markas besar klub besar sepak bola yang sangat perkasa di Inggris, yaitu Manchester United. Karena berbeda kota, maka kami pergi ke Kota Manchester menggunakan kereta. Karena ayah sangat menyukai MU, maka kami memasukannya ke dalam daftar kenjungan di Inggris. Sesampainya di sana, kami melihat Stadion Old Trafford yang sangat megah. Aku dan ibu memangtidak suka bola, tapi bila melihat stadion sebesar ini, kami pun jadi ikut kagum. Stadion ini bernuansa merah dengan tribun penonton yang sangat besar dan kursi-kursi yang berderet rapi. Tribun ini mampu menampung sebanyak 65.000 penonton. Lapangannya pun memiliki rumput yang sangat rapi dan hijau. Benar-benar stadion yang sangat spektakuler!

Seharian ini kami lewatkan di Kota Manchester. Kami mengunjungi tempat-tempat bersejarah di sini. Baru sore harinya kami pulang ke London.

Hari ke-5 di Inggris kami berkunjung ke dua universitas ternama di Inggris, yaitu Oxford dan Cambridge. Bangunan kedua universitas ini sudah tua namun masih dapat berdiri dengan kokoh. Kedua universitas ini termasuk ke dalam 100 jajaran universitas paling berkualitas dan diminati di dunia.

“Bu, saat aku besar nanti, aku ingin melanjutkan sekolahku di sini,” kataku.

“Boleh, boleh sekali. Tapi salah satu persyaratan supaya kamu bisa diterima di sini adalah kamu harus belajar dengan giat dan rajin karena sangat banyak pelajar dari segala penjuru dunia yang ingin bersekolah di sini, sama seperti kamu. Kira-kira kamu bisa tidak ya?” goda ibu.

“Pasti bisa lah! Aku kan anak yang rajin dan giat belajar, jadi aku akan berusaha keras untuk bisa keterima sekolah di sini. Ibu mendukungku kan?” tanyaku.

“Ya jelas Ibu mendukung semua yang kamu inginkan, asalkan itu hal yang positif dan baik untuk masa depanmu,” ibu menjawab.

“OK!” ucapku singkat.

Setelah itu, kami mencicipi makanan khas Inggris yang memang sangat enak. Kebetulan sekali hari ini ada festival malam hari yang menampilkan kebudayaan Inggris beserta kulinernya. Kebudayaan di sini memang sangat menarik dan unik, jadi kami sangat terhibur dibuatnya. Ada penampilan dari kelompok sirkus setempat, penampilan musik dari grup orkestra jalanan, dan penampilan sulap sebagai acara puncaknya. Malam semakin larut, kami pun pulang ke penginapan dengan perut yang kenyang.

Hari ini adalah hari terakhir kami bisa melakukan kunjungan ke tempat-tempat menarik di Inggris. Kami memutuskan untuk berkeliling Kota London menggunakan bus khas Inggris yang bertingkat dua atau double dekker berwarna merah. Kami berada di tingkat dua dan merasa lebih tinggi daripada yang lainnya. Di setiap tempat bersejarah kami berhenti dan melihatnya sambil mengabadikannya dengan menggunakan kamera. Kami juga dapat melihat rutinitas warga di Inggris dan bangunan-bangunan kuno. Sorenya kami pulang dulu ke penginapan untuk membersihkan diri dari keringat, lalu kemudian pada malam harinya kami menuju ke gedung kesenian di pusat Kota London untuk melihat teater musikal dan penampilan Christina Aguilera, penyanyi yang sangat digemari oleh anak muda di seluruh dunia. Teater musikal ini menceritakan tentang salah satu cerita Walt Disney, Mulan. Aku sangat menyukai cerita itu. Mereka memerankan peran dengan sangat baik. Kemudian di pengujung acara, Christina beraksi dengan menyanyikan soundtrack Mulan yang berjudul “Reflection”. Suaranya terdengar sangat merdu, sampai-sampai membuat semua penonton berteriak kepadanya agar menyanyikan lagu itu lagi. Akhirnya malam semakin larut dan pertunjukkan pun berakhir. Kami pulang ke penginapan dengan tubuh sudah sangat kelelahan. Sesampainya di penginapan, kami pun langsung tidur pulas.

Akhirnya hari kepulangan pun tiba. Pagi harinya kami mengemasi barang dengan cepat karena jam keberangkatan dengan pesawat sebentar lagi tiba. Aku sangat sedih karena harus meninggalkan Inggris dan segala kenangan di sini. Tapi aku harus pulang karena aku harus melanjutkan sekolahku. Suatu saat nanti aku pasti akan berkunjung ke sini lagi bersama orang tuaku. Membuat kenangan baru bersama mereka. Aku janji.

*                      *                      *

Kejadian itu sudah lama, memang. Sepuluh tahun yang lalu tapi aku masih bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang seorang ibu. Kini aku hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur karena penyakit darah rendahku kambuh. Tidak ada yang memerhatikanku dan menjagaku seperti waktu aku masih kecil. Setiap kali aku sakit aku selalu membayangkan dan mengingat kembali memori indah bersama ibu saat di Inggris. Jika begitu, aku akan merasa lebih baik.

Ibu pergi meninggalkanku terlalu cepat. Aku merasa kesepian dan sangat merindukannya. Kenangan bersama ibu di Inggris menjadi penebus rinduku padanya.

Kehidupanku masih panjang. Namun aku tak sanggup lagi menjalaninya tanpa malaikat duniaku. “Ibu, aku ingin bertemu Ibu. Aku tak ingin bangun lagi”.

“2008, cerpenku yang lainnya..”🙂

About extra-ordinary girl

Annyeong haseo! ^^ Ini adalah profil singkatku sebagai penulis blog ini.. Namaku Yuzy Fauzyah, biasa dipanggil Yuzy, Juje, atau Usi. Aku lahir di Bandung, 21 September 1993. Saat ini, aku bersekolah di SMA Negeri 24 Bandung kelas XII IPA 5. Bagi yang ingin mengenal lebih dekat, bisa add di : Facebook : yuzy_fauzyah@yahoo.com Plurk : yuzy_akajuje@yahoo.com Thanks for visiting! :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s